Skip to main content

(Jika) ini tentang Pak Joko dan Pak Wowo...



Dua hal yang selalu berhasil 'membutakan' manusia adalah: cinta dan benci. Apalagi dalam kadar yang berlebihan.

Saat rasa cinta kita terlalu besar pada seseorang, maka apapun tindakan dari orang tersebut akan selalu benar di mata kita. Apapun perbuatannya akan selalu baik menurut kita. Tidak ada satu tindakan darinya yang salah, tidak ada satu perbuatan darinya yang buruk menurut kita.

Pun saat telinga kita 'berhasil' mendengar kesalahannya, saat mata kita 'berhasil' menemukan keburukannya, kita tetap tidak akan mengakuinya sebagai suatu kesalahan atau pun suatu keburukan. Karena sekali lagi: tidak ada satu tindakan darinya yang salah, tidak ada satu perbuatan darinya yang buruk menurut kita.

Sebaliknya saat kita memiliki rasa benci yang besar terhadap seseorang. Setiap langkah yang Ia ambil adalah salah di mata kita. Setiap perbuatan yang Ia lakukan akan selalu buruk di mata kita. Meskipun 'diam-diam' ada bagian dalam hati kita yang mengakui bahwa perbuatannya baik dan benar, kita akan cenderung memilih untuk menutupi bagian tersebut dan tetap keukeuh bahwa dia salah. Sampai kapan pun 'si orang' ini akan tetap salah di mata kita. Titik.

Jika kita telah sampai pada tahap mencintai dan membenci orang seperti ini; maka hati-hatilah. Boleh jadi kita memalaikatkan syaitan pun sebaliknya boleh jadi kita telah men-syaitankan malaikat. Di dunia ini tidak ada manusia yang jika benar Ia akan selalu benar dan jika sekali salah Ia akan selalu salah.

Well...

Ini bukan tentang Pak Joko dan Pak Wowo, kok. Tapi jika kebetulan kalian yang membaca adalah pendukung salah satu di antara mereka dan kalian tersinggung: maka boleh jadi tulisan ini benar. Silahkan di baca kembali...

#cttnAA

Ngomong-ngomong ini foto saya lagi duduk bukan terbang

Comments

Popular posts from this blog

Home is My Favorite Word

  Salah satu kata favoritku dalam bahasa inggris adalah ‘home’ yang berarti rumah. Memang kata rumah dalam bahasa inggris bukan hanya ‘home’, ada ‘house’ juga. Yang menjadi pembeda, saat kita bilang ‘house’ maka artinya hanya sebatas ‘bangunan fisik’ yang kita tempati. Tidak lebih. Sedangkan saat kita bilang ‘home’ kita tidak hanya bicara tentang bangunan fisik, kita bicara tentang perasaan. ‘Home’ berarti perwujudan apapun yang membuat kita nyaman dan menemukan cinta. Maka itu bisa tempat, bangunan, atau bahkan orang. Selama kita merasa nyaman. Selama kita merasa aman. Selama kita merasa dicintai. Selama kita bisa menjadi diri kita sendiri tanpa khawatir dinilai. Selama kita bahagia. Maka tidak penting dalam bentuk apapun, itu adalah ‘home’. Ketika seseorang bilang ke kita “you are my home” atau “you feel like home to me”, bagiku itu adalah bentuk penghargaan tertinggi.

Trip to Hiri - The Magical Island at Maluku Utara

    Setelah hanya menjadi rencana sejak tahun 2022 akhirnya bisa terwujud sekarang. Menapaki kaki di Pulau Hiri, pulau yang namanya disebut di salah satu lagu ikonik kota Ternate berjudul Selamat Datang Di Kota Ternate ciptaan Pak Semmy Metekohy. Ada beberapa pilihan tempat wisata di sini, namun satu yang mencuri hati saya sejak lama adalah Batu Balubang Gurabala, batu besar dengan lubang di tengahnya, yang merupakan ikon wisata Pulau Hiri. Batu Balubang Gurabala terletak di pesisir Pantai Tomajiko Pulau Hiri. Pantai ini terbilang unik karena pesisir pantainya dipenuhi bongkahan batu-batu berukuran beragam, bukan pasir seperti pada umumnya. Dalam perjalanan pulang dari Batu Balubang menuju Pelabuhan Hiri kemarin, sempat sadar ternyata warna biru laut di sekitar Pulau Hiri terlihat lebih cerah dibandingkan yang di dekat pulau Ternate yang cenderung lebih gelap. Pikir saya mungkin karena laut di sekitar Pulau Ternate berawarna gelap karena saat itu sudah sore dan kebetulan sinar...

Kenangan

  Aku biasanya berbaring di sampingmu. Semenjak kecil. Mendengarkanmu bercerita banyak hal. Apa saja, termasuk keinginan-keinginan sederhanamu. Terlalu sederhana. Seperti saat kau memintaku untuk membelikanmu sebuah sandal yang nyaman untuk kau pakai di rumah. Kadang giliranmulah yang mendengarkan aku bercerita. Lebih tepatnya berkeluh kesah. Saat banyak hal menyakitkan terjadi. Saat hati sesak, penuh dengan beban. Mengobrol denganmu selalu menjadi obat. Saat jauhpun kita tidak pernah absen mengobrol. Saling menelepon menjadi rutinitas kita. Meskipun hanya beberapa menit. Kau bilang; “Yang penting kmalongo nik Alan ni suara do” Sekarang, hening. Tempat tidur yang biasanya kau tempati, di mana aku biasanya berbaring di sisimu, sekarang kosong. Kau tidak lagi di situ. Tidak ada lagi senandung-senandung kecilmu. Pun obrolan-obrolan kita. Aku tidak bisa lagi mendengarkan suaramu. Semesta memutuskan telepon kita. Padahal masih banyak yang ingin kuceritakan padamu, masih banyak yang ingi...