Skip to main content

Posts

Showing posts with the label CERITA

Obrolan 4: "Entahlah..."

"Kau pernah bertanya, kan, apakah kita bisa jatuh hati sama seseorang yang belum pernah kita temui? Saya rasa jawabannya: 'iya, bisa'. Buktinya, saya." (-Alan Arifin) "Kau pernah jatuh hati?" Saya melihatnya menyeka keringat. Matanya menyipit karena sinar matahari. "Tentu saja pernah. Kau sendiri bagaimana? Sudah jatuh hati? Pernah?" Dia menggunakan ekspresi mengejeknya. Seperti biasa. "Menurutmu?" Saya balik bertanya. "Taruhan kau pasti belum pernah" Dia mengedipkan mata sambil tertawa. "Kau tahu saya pertama kali jatuh hati saat duduk di kelas 6 SD. Ah, sudah lama sekali. Orang itu adalah cinta monyet sekaligus cinta pertama saya" Dia membuat wajah 'pura-pura' cemberut. "Serius?" Saya tertawa. "Bagaimana bisa?" Saya tidak bisa berhenti tertawa. "Kenapa?" Dia ikut tertawa "Kau sendiri bagaimana?" Dia menyenggol tanganku. "Bagaimana kau...

Obrolan 3: "Pantai"

"...pantai adalah gambaran sederhana kehidupan. Kadang ramai dan ada waktunya...sepi. " (-Alan Arifin) "Kau bilang kau suka pantai?" Tanyaku padanya yang sedari tadi kelihatannya belum berkedip sama sekali. "Saya suka pantai. Memangnya ada yang tidak suka pantai?" Dia menjawab dengan pertanyaan. "Tentu saja ada. Meskipun..." saya berhenti sejenak untuk meminum air mineral yang saya bawa. "Meskipun saya tidak tahu siapa orangnya....atau siapa mereka" "Kau tidak tahu siapa orangnya?. Okeee..." Dia mengangguk-anggukkan kepalanya berulang-ulang sambil tersenyum. "Jadi, saya bisa asumsikan kalau semua orang menyukai pantai" Dia tersenyum lagi. "Terserahlah. Saya percaya bahwa di dunia ini tidak ada satu hal yang bisa disukai oleh semua orang. Uumm, tapi ngomong-ngomong, kenapa kau suka pantai?" Kini giliranku menjawab dengan memberikan pertanyaan. Menirunya. Hmm, bukankah memang percakapan kami bent...

Obrolan 2: "Hujan"

"Kadang kita terlalu banyak mengeluhkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu kita keluhkan, bahkan mungkin tidak pantas kita keluhkan" (-Alan Arifin) "Hujan lagi" "Maksudmu 'akhirnya hujan juga'. Baru dua kali hujan, kemarin saat kau datang dan hari ini, setelah hampir sebulan hujan tidak pernah turun di sini" Dia menyela. Saya melihat ke arahnya. Dia masih mengenakan baju dan celana putih yang sama seperti saat terakhir kali kami bertemu dan mengobrol tentang warna langit- juga pertemuan kami sebelum-sebelumnya. Pun saya. Entah kenapa saya selalu mengenakan baju dan celana hitam yang sama setiap kali bertemu dia. "Saya baru tahu" Saya memalingkan wajah ke luar jendela. "Karena kau orang 'baru'. Tidak heran" Dia membuat wajah mengejeknya yang khas. Tersenyum, menyipitkan kedua matanya sambil mengangkat alis. "Aaaaa, jadi boleh dibilang kedatangan saya membawa berkah" Saya tersenyum. "Ya, b...

Obrolan 1: "Warna"

"... kenapa Tuhan memilih biru untuk kita lihat sebagai warna langit? " (-Alan Arifin) "Langit di sini selalu biru, ya?" "Tidak...tidak juga" Sebuah suara menyela. Saya menatap orang yang empunya suara. Ia menyunggingkan senyum. "Kecuali malam dan saat hujan, saya selalu melihat langit berwarna biru..." "Kau yakin?" Ia menyela lagi dengan cepat. Gilirannya melihat saya dengan raut muka penuh tanya. Mengejek-lebih tepatnya. "Maksud saya, langit di sini beda. Selalu biru. Biru sekali...biru sekali...biruuuuu sekali... Atau mungkin perasaan saya saja?" "Perasaanmu saja...Tapi, kenapa Tuhan memilih biru untuk kita lihat sebagai warna langit? Dari sekian banyaknya warna. Yaah, meskipun sebenarnya biru bukan warna langit yang sesungguhnya, kan? Kenapa Tuhan tidak memilih merah? Atau seandainya saja hijau. Atau kuning. Atau pink? Atau... " Bicara panjangnya terhenti karena saya tertawa. "Kau serius m...

PERTEMUAN KELIMA

Aku bertemu dia hari ini. Bukan, bukan 'seseorang yang lain' tapi 'seseorang itu'. Orang pertama yang membuat aku jatuh cinta, orang pertama yang membuat aku membenci cinta. Aku tidak pernah menyangka bertemu dia di sini, di tempat yang mustahil-menurutku- untuk kami bisa bertemu. Rumahku. Aku sempat kaget melihatnya di depan pintu dan wajahnya juga menunjukkan hal yang sama. Kami terdiam cukup lama, membiarkan keheningan membius kami. Aku bisa mendengar degupan jantungku. Aku gugup. "Hai..." Ia tersenyum "Nenek menitipkan ini padaku untuk dikasih ke Mama kamu" Ia menyodorkan sebuah bingkisan hitam padaku. Aku segera menerimanya. "Haa.....haaai..." Cuma 'hai', aku tidak tahu apa yang harus ku katakan. "Mmmmm....eee...duduk dulu" Aku mempersilahkannya duduk? Di teras rumah ada dua kursi besar berawarna putih yang menghadap ke jalan. Sebuah meja berbentuk bulat juga berawarna putih ada di antara kedua ku...

SURAT KEEMPAT

"Apa kabar? Kamu pasti baik-baik saja bukan? Aku juga baik-baik saja. Kecuali hatiku. Kamu tahu, sekarang aku berada di mana? Aku berada di pantai. Pantai pertama yang pernah kita datangi bersama. Dulu. Ah, sudah lama sekali. Kamu mungkin tidak mengingatnya, tapi aku, aku bahkan tidak bisa melupakannya meski aku ingin. Bagaimana aku bisa melupakan pantai ini jika ia menyimpan kenangan bersama kamu? Sebenarnya aku pernah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak pernah datang ke sini lagi semenjak hari di mana kamu memutuskan untuk 'berubah' dulu. Saat itu aku telah memutuskan untuk melupakan segala tentang kamu, termasuk pantai ini. Tapi begitulah, aku selalu kalah oleh perasaanku sendiri. Bagaimanapun aku berusaha, perasaan untukmu tidak pernah berkurang barang sedikitpun. Bahkan setiap hari ia bertambah, membuat sesak hati. Apa kamu penasaran kenapa aku berada di sini sekarang? Meskipun tidak, biar kukatakan alasannya: Pertama, karena aku merindukan ka...

ORANG KETIGA

  Tidak ada petani yang menyukai hama yang menyerang tanaman mereka. Bayangkan saja apa yang dirasakan para petani ketika tanaman yang mereka rawat dengan baik berharap bisa dipanen nantinya mati atau dirusak oleh hama? Sedih, marah, jengkel, rasanya ingin memusnahkan hama-hama itu dari muka bumi. Apa yang dirasakan oleh para petani ketika tanamannya diganggu oleh hama ini tidak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan oleh mereka yang hubungan asmaranya diganggu oleh seseorang.  Orang-orang sering menyebut pengganggu hubungan asmara orang sebagai 'orang ketiga'. Maka tidak salah ketika orang-orang di daerahku menyebut Marshanda sebagai hama karena memerankan tokoh sebagai 'orang ketiga' atau pengganggu hubungan asmara orang dalam sinetron yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta. Hama dan orang ketiga; keduanya sama-sama pengganggu. "Hama? Orang Ketiga?" Apa itu berarti jika aku diibaratkan sebagai para petani itu, maka aku telah ...

LUKA KEDUA

"Apa itu jatuh hati, Kak? Apa itu sebuah penyakit? Kenapa hati bisa jatuh, Kak?" Aku menghentikan Mike Mohede menyanyikan lagunya yang berjudul Jatuh Hati di laptopku. Kualihkan pandanganku pada gadis kecil berkepang dua yang sedang menggambar tepat di depanku. Satu jam yang lalu dan Ia baru saja menyelesaikan gambar bebeknya yang berleher panjang seperti jerapah, dua kaki yang panjang sebelah, masing-masing kaki mendapat bonus dua jari, jadilah bebek berjari-jari sepuluh, berekor seperti ekor Shaun-domba dalam serial kartun Shaun the Sheep. Benar-benar tidak ada bakat menggambar sama sekali. Sama sepertiku. Ia meletakkan pensil gambarnya lalu menatapku, menunggu jawaban atas pertanyaannya. "Jatuh hati itu kata lain dari rasa suka. Dan itu bukan penyakit, Yaya" Ia kelihatannya tidak memahami jawabanku barusan.  "Ini tas baru yang kemarin dibeliin sama Mama, kan, waktu jalan ke mall?" Aku menunjuk sebuah tas yang berada di sampingnya. Ia te...