Skip to main content

Di Ujung Rotan Ada Emas


Waktu masih sekolah dulu (SD, SMP, SMA) saya pernah dihukum guru. Seingat saya, saya sudah pernah dipukuli pake rotan atau pake penggaris papan yg tingginya melebihi tinggi saya saat itu. Betis, bokong, dan lengan jadi sasaran. Bahkan hidung, telinga, kepala, dahi, pun mulut tidak ketinggalan ikutan dihukum. Dulu, guru-guru Saya memang punya hukuman yg berbeda-beda. Ada guru yg suka menjewer telinga, ada yang suka memukul tulang hidung pake pensil atau pena, ada yang suka mencubit paha, ada juga yang suka menarik jambang, ada yang suka menjitak kepala, ada yang lebih suka menggunakan rotan, banyak pokoknya, macam-macam. Kesal, iya. Tapi jika diingat-ingat sekarang saya jadi befikir "Oh, jadi ini tujuan guru kami, ternyata untuk kebaikan kami sendiri"

Zaman sekarang, sudah jarang bangat ada guru yang menggunakan hukuman fisik. Ya, karena apa? Salah sedikit saja gurunya langsung dilaporin ke polisi. Masuk penjara. Bahkan ada orang tua yang datang dan ngamuk-ngamuk ke sekolah jika anaknya dihukum. Makanya jangan heran jika melihat video (yang sempat viral) anak SD yang 'ngamuk' pada gurunya. Jangan heran juga dengan kasus guru yang meninggal karena dianiaya oleh muridnya sendiri beberapa waktu lalu. "Ngapain takut sama guru? Udah, bikin pelanggaran aja, kalau kita dihukum ngadu sama orang tua biar gurunya dilaporin ke polisi. Atau kita videoin biar viral, biar gurunya tau rasa".

Semua orang mungkin tidak setuju dengan bentuk hukuman fisik oleh guru pada muridnya. Tapi percayalah, bentuk hukuman tersebut tujuannya tidak lain adalah untuk mendidik murid itu sendiri. Jika memang tidak setuju dengan hukuman tersebut, maka mungkin hukuman lain yang harus diberikan adalah: konsekuensinya di nilai saja oleh guru yang bersangkutan, dilarang untuk mengikuti mata pelajaran guru yang bersangkutan hingga akhir semester, dianggap tidak lulus di mata pelajaran guru yang bersangkutan, atau dipulangkan, kasarnya dikeluarkan dari sekolah. Tapi tawaran hukuman tersebut, jika guru diminta untuk memilih, maka pasti guru-guru akan lebih memilih 'memberi hukuman fisik' dibandingkan tidak meluluskan muridnya.

"Jadi guru zaman sekarang memang susah karena murid-murid zaman sekarang."

Nenek pernah bilang begini dalam bahasa Inggris: "Tiskola ja, cciap tarima yapule. Ni resiko hajado" (terjemahkan sendiri kalau memang penasaran"

Comments

Popular posts from this blog

Home is My Favorite Word

  Salah satu kata favoritku dalam bahasa inggris adalah ‘home’ yang berarti rumah. Memang kata rumah dalam bahasa inggris bukan hanya ‘home’, ada ‘house’ juga. Yang menjadi pembeda, saat kita bilang ‘house’ maka artinya hanya sebatas ‘bangunan fisik’ yang kita tempati. Tidak lebih. Sedangkan saat kita bilang ‘home’ kita tidak hanya bicara tentang bangunan fisik, kita bicara tentang perasaan. ‘Home’ berarti perwujudan apapun yang membuat kita nyaman dan menemukan cinta. Maka itu bisa tempat, bangunan, atau bahkan orang. Selama kita merasa nyaman. Selama kita merasa aman. Selama kita merasa dicintai. Selama kita bisa menjadi diri kita sendiri tanpa khawatir dinilai. Selama kita bahagia. Maka tidak penting dalam bentuk apapun, itu adalah ‘home’. Ketika seseorang bilang ke kita “you are my home” atau “you feel like home to me”, bagiku itu adalah bentuk penghargaan tertinggi.

Kenangan

  Aku biasanya berbaring di sampingmu. Semenjak kecil. Mendengarkanmu bercerita banyak hal. Apa saja, termasuk keinginan-keinginan sederhanamu. Terlalu sederhana. Seperti saat kau memintaku untuk membelikanmu sebuah sandal yang nyaman untuk kau pakai di rumah. Kadang giliranmulah yang mendengarkan aku bercerita. Lebih tepatnya berkeluh kesah. Saat banyak hal menyakitkan terjadi. Saat hati sesak, penuh dengan beban. Mengobrol denganmu selalu menjadi obat. Saat jauhpun kita tidak pernah absen mengobrol. Saling menelepon menjadi rutinitas kita. Meskipun hanya beberapa menit. Kau bilang; “Yang penting kmalongo nik Alan ni suara do” Sekarang, hening. Tempat tidur yang biasanya kau tempati, di mana aku biasanya berbaring di sisimu, sekarang kosong. Kau tidak lagi di situ. Tidak ada lagi senandung-senandung kecilmu. Pun obrolan-obrolan kita. Aku tidak bisa lagi mendengarkan suaramu. Semesta memutuskan telepon kita. Padahal masih banyak yang ingin kuceritakan padamu, masih banyak yang ingi...

Review Jurnal - Etika Bisnis dan Profesi

PERAN PENTING ETIKA BISNIS BAGI PERUSAHAAN-PERUSAHAAN INDONESIA DALAM BERSAING DI ERA MASYARAKAT EKONOMI ASEAN ( https://www.jagakarsa.ac.id ) Jeffry H. Sinaulan (Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Tama Jagakarsa) DIREVIEW OLEH Fachran Nurdiansyah Arifin A.     LATAR BELAKANG Dengan berkembangnya dunia ekonomi tentunya pelaku ekonomi harus memerhatikan faktor-faktor terkait dengan perkembangan tersebut. Dalam perusahaan dibutuhkan perencanaan jangka panjang dan strategi yang tepat untuk dapat bersaing dalam persaingan global yang sangat ketat saat ini. Selain itu, faktor lain yang perlu diperhatikan dalam perusahaan untuk dapat bersaing dalam perkembangan ekonomi saat ini adalah terkait dengan masalah “etika”. Etika sangatlah penting bagi perusahaan dalam menjalankan bisnisnya juga dalam mempengaruhi tingkat kepuasan konsumen dalam membeli atau mengkonsumsi produk yang dijual oleh perusahaan. Tentunya hal tersebut juga berpengaruh terhadap tingkat...