Skip to main content

ORANG KETIGA

 

Tidak ada petani yang menyukai hama yang menyerang tanaman mereka. Bayangkan saja apa yang dirasakan para petani ketika tanaman yang mereka rawat dengan baik berharap bisa dipanen nantinya mati atau dirusak oleh hama? Sedih, marah, jengkel, rasanya ingin memusnahkan hama-hama itu dari muka bumi.

Apa yang dirasakan oleh para petani ketika tanamannya diganggu oleh hama ini tidak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan oleh mereka yang hubungan asmaranya diganggu oleh seseorang.  Orang-orang sering menyebut pengganggu hubungan asmara orang sebagai 'orang ketiga'. Maka tidak salah ketika orang-orang di daerahku menyebut Marshanda sebagai hama karena memerankan tokoh sebagai 'orang ketiga' atau pengganggu hubungan asmara orang dalam sinetron yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta. Hama dan orang ketiga; keduanya sama-sama pengganggu.

"Hama? Orang Ketiga?"

Apa itu berarti jika aku diibaratkan sebagai para petani itu, maka aku telah dua kali gagal panen karena hama? Dua kali tanamanku harus mati karena hama? Dua kali juga aku harus mengubur harapanku karena hama? Apa itu artinya aku termasuk mereka yang hubungan asmaranya diganggu oleh orang ketiga?

Ah, aku bukan para petani itu. Aku juga bukan termasuk mereka yang hubungan asmaranya diganggu. Hubungan asmara apanya? Aku bahkan tidak tahu bagaimana perasaan mereka terhadapku. Kenyataannya tidak ada hubungan asmara di antara aku dan 'seseorang itu' juga tidak ada hubungan asmara di antara aku dan 'seseorang yang lain'. Hanya aku satu satunya yang memiliki perasaan itu pada mereka. Dan itu tidak bisa sama sekali disebut sebagai hubungan asmara.

"Tidak, Ri, kamu bukan satunya satunya orang yang memiliki perasaan itu pada mereka. Entah itu pada 'seseorang itu' atau pada 'seseorang yang lain'"

"Kau ingat bagaimana seseorang itu dulu tersenyum padamu? Bagaimana cara Ia menatapmu? Bukankah Ia langsung mendatangi kamu ketika tahu kamu kembali? Ingat bagaimana senangnya Ia ketika tahu kamu masih menyimpan 'sesuatu' yang Ia berikan dulu? Bahkan ketika Ia 'berubah' apa ada yang berbeda dari caranya menatapmu? Apa arti semua itu jika bukan karena 'perasaan itu'?"

"Lalu seseorang yang lain. Apa kau lupa bagaimana caranya memanggil namamu? Apa kau lupa bagaimana Ia mencuri-curi waktu untuk bersamamu? Apa tidak aneh ketika Ia berusaha menyembunyikan 'sesuatu' yang bisa membuatmu terluka? Bahkan sekarang, ketika Ia telah 'berubah' apa perhatiannya jadi berkurang? Apa ada yang berubah dengan cara dia memanggilmu?". Potongan-potongan keyakinan di hatiku bersuara kembali.

Jika potongan-potongan keyakinanku itu benar maka boleh jadi dulu sebelum 'seseorang itu' dan 'seseorang yang lain' berubah aku adalah para petani itu. Petani yang tanamannya diganggu oleh hama. Petani yang telah gagal panen dua kali. Dan mereka yang hubungan asmaranya diganggu, boleh jadi aku bernasib sama dengan mereka. Bahkan dua kali aku harus terluka di tempat yang sama.

Jika potongan-potongan keyakinanku itu benar tentang adanya 'perasaan itu' di hati masing-masing dari mereka bahkan setelah mereka 'berubah', maka bukankah sekarang aku bukan lagi para petani itu? Sekarang aku bukan lagi orang yang diganggu hubungan asmaranya. Jika benar mereka masih memiliki perasaan itu, maka bukankah aku telah berubah menjadi hama bagi tanaman mereka? bukankah aku yang kini menjadi orang ketiga dihubungan masing-masing dari mereka? Kini aku menjadi bayang-bayang dalam kehidupan mereka...

"Aku adalah hama. Aku adalah orang ketiga." Tidakkah ini malah lucu?

"Ah, apa yang sedang kupikirkan barusan?"

Hujan belum berhenti juga. Sudah lima belas menit yang lalu aku berteduh di serambi rumah tua ini. Aku bersama dua siswa SMA. Sepertinya mereka sepasang kekasih. Sama sepertiku; mereka tidak membawa mantel karena mengira tidak akan hujan. Setelah berteduh cukup lama, mereka memutuskan untuk pulang setelah tersenyum dan pamit padaku. Keduanya berlarian menuju sepeda motor yang diparkir tidak jauh dengan motorku. Tawa bahagia jelas terlihat di wajah mereka. Aku tidak melepaskan pandanganku dari mereka hingga mereka menghilang dibelokan tidak jauh dari rumah ini.

Aah, aku iri!

Jujur aku lebih suka basah daripada harus duduk menunggu hujan yang tidak tahu kapan akan berhenti, jika saja aku tidak membawa buku dan skripsi di tas cokelatku ini. Aku tidak suka menunggu. Tidak ada orang yang suka menunggu. Jarak antara rumah tua ini dan rumahku sudah tidak terlalu jauh, tidak butuh lima menit jika menggunakan sepeda motor untuk sampai ke rumah.  Tapi hujan di luar bisa membuat aku basah kuyup bahkan sebelum aku menghidupkan motorku yang kuparkir dipinggir jalan.


Kali ini, Aku tidak bisa pulang...

Comments

Popular posts from this blog

PERTEMUAN KELIMA

Aku bertemu dia hari ini. Bukan, bukan 'seseorang yang lain' tapi 'seseorang itu'. Orang pertama yang membuat aku jatuh cinta, orang pertama yang membuat aku membenci cinta. Aku tidak pernah menyangka bertemu dia di sini, di tempat yang mustahil-menurutku- untuk kami bisa bertemu. Rumahku. Aku sempat kaget melihatnya di depan pintu dan wajahnya juga menunjukkan hal yang sama. Kami terdiam cukup lama, membiarkan keheningan membius kami. Aku bisa mendengar degupan jantungku. Aku gugup. "Hai..." Ia tersenyum "Nenek menitipkan ini padaku untuk dikasih ke Mama kamu" Ia menyodorkan sebuah bingkisan hitam padaku. Aku segera menerimanya. "Haa.....haaai..." Cuma 'hai', aku tidak tahu apa yang harus ku katakan. "Mmmmm....eee...duduk dulu" Aku mempersilahkannya duduk? Di teras rumah ada dua kursi besar berawarna putih yang menghadap ke jalan. Sebuah meja berbentuk bulat juga berawarna putih ada di antara kedua ku...

Bagaimana sih Caranya Agar Skripsi Cepat Kelar? (Bagian 1: Pengalaman)

Menurut saya ada tiga hal penting yg harus kita punya: Tekad, Sabar, Optimis. Tekad untuk bisa menyelesaikan skripsi tepat waktu, sabar melewati rintangan-rintangan selama proses mengerjakan, dan harus optimis tentunya. Jangan lupa berdo'a... Nah, saya ingin berbagi sedikit pengalaman saya dalam menyelesaikan skripsi saya beberapa bulan lalu. Jadi kebetulan saat semester 6 ada satu mata kuliah di mana kami ditugaskan oleh dosennya untuk menyelesaikan sebuah studi kasus. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan masing-masing kelompok memilih gulungan kertas berisi judul studi kasus yang sebelumnya telah disiapkan oleh beliau. Tugas kelompok dan judul dari kelompok kami inilah cikal bakal Skripsi saya. Singkat cerita, tibalah hari presentasi kelompok kami. Saat presentasi Alhamdulillah hasilnya tidak mengecewakan. Nah, sebenarnya pada saat proses mengerjakan saya sudah tertarik dengan tugas tersebut dan saat dikomentari oleh dosen mata kuliah itu bahwa hasil tugas dan presenta...

Analisis Laporan Keuangan: Analisis Rasio Laporan Keuangan Gorontalo Tahun 2012

BAB I PENDAHULUAN A.     LATAR BELAKANG       Keberadaan berbagai jenis organisasi  seperti organisasi publik dan swasta di Indonesia semakin mengalami kompleksitas yang terus meningkat. Masing-masing dari organisasi tersebut memiliki tujuan dan karakteristiknya. Organisasi sektor publik memiliki tujuan memberikan pelayanan publik, seperti kesehatan, pendidikan, kemananan, dan lain sebagainya. Berbeda dengan organisasi swasta yang tujuan utamanya adalah memaksimumkan laba.       Meskipun kedua organisasi tersebut berbeda, namun dalam pencapaiannya tetap harus mempertanggungjawabkan segala aktivitas yang dilakukan. Salah satu bentuk pertanggungjawaban tersebut adalah melalui pelaporan keuangan.       Pada dasarnya laporan keuangan adalah laporan yang berisi informasi keuangan suatu perusahaan. Laporan keuangan perusahaan merupakan salah satu sumber informasi penting di samping info...