Tidak
ada petani yang menyukai hama yang menyerang tanaman mereka. Bayangkan saja apa
yang dirasakan para petani ketika tanaman yang mereka rawat dengan baik
berharap bisa dipanen nantinya mati atau dirusak oleh hama? Sedih, marah,
jengkel, rasanya ingin memusnahkan hama-hama itu dari muka bumi.
Apa
yang dirasakan oleh para petani ketika tanamannya diganggu oleh hama ini tidak
jauh berbeda dengan apa yang dirasakan oleh mereka yang hubungan asmaranya
diganggu oleh seseorang. Orang-orang
sering menyebut pengganggu hubungan asmara orang sebagai 'orang ketiga'. Maka
tidak salah ketika orang-orang di daerahku menyebut Marshanda sebagai hama
karena memerankan tokoh sebagai 'orang ketiga' atau pengganggu hubungan asmara
orang dalam sinetron yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta.
Hama dan orang ketiga; keduanya sama-sama pengganggu.
"Hama?
Orang Ketiga?"
Apa
itu berarti jika aku diibaratkan sebagai para petani itu, maka aku telah dua
kali gagal panen karena hama? Dua kali tanamanku harus mati karena hama? Dua
kali juga aku harus mengubur harapanku karena hama? Apa itu artinya aku
termasuk mereka yang hubungan asmaranya diganggu oleh orang ketiga?
Ah,
aku bukan para petani itu. Aku juga bukan termasuk mereka yang hubungan
asmaranya diganggu. Hubungan asmara apanya? Aku bahkan tidak tahu bagaimana
perasaan mereka terhadapku. Kenyataannya tidak ada hubungan asmara di antara
aku dan 'seseorang itu' juga tidak ada hubungan asmara di antara aku dan
'seseorang yang lain'. Hanya aku satu satunya yang memiliki perasaan itu pada
mereka. Dan itu tidak bisa sama sekali disebut sebagai hubungan asmara.
"Tidak,
Ri, kamu bukan satunya satunya orang yang memiliki perasaan itu pada mereka.
Entah itu pada 'seseorang itu' atau pada 'seseorang yang lain'"
"Kau
ingat bagaimana seseorang itu dulu tersenyum padamu? Bagaimana cara Ia
menatapmu? Bukankah Ia langsung mendatangi kamu ketika tahu kamu kembali? Ingat
bagaimana senangnya Ia ketika tahu kamu masih menyimpan 'sesuatu' yang Ia
berikan dulu? Bahkan ketika Ia 'berubah' apa ada yang berbeda dari caranya
menatapmu? Apa arti semua itu jika bukan karena 'perasaan itu'?"
"Lalu
seseorang yang lain. Apa kau lupa bagaimana caranya memanggil namamu? Apa kau
lupa bagaimana Ia mencuri-curi waktu untuk bersamamu? Apa tidak aneh ketika Ia
berusaha menyembunyikan 'sesuatu' yang bisa membuatmu terluka? Bahkan sekarang,
ketika Ia telah 'berubah' apa perhatiannya jadi berkurang? Apa ada yang berubah
dengan cara dia memanggilmu?". Potongan-potongan keyakinan di hatiku
bersuara kembali.
Jika
potongan-potongan keyakinanku itu benar maka boleh jadi dulu sebelum 'seseorang
itu' dan 'seseorang yang lain' berubah aku adalah para petani itu. Petani yang
tanamannya diganggu oleh hama. Petani yang telah gagal panen dua kali. Dan
mereka yang hubungan asmaranya diganggu, boleh jadi aku bernasib sama dengan
mereka. Bahkan dua kali aku harus terluka di tempat yang sama.
Jika
potongan-potongan keyakinanku itu benar tentang adanya 'perasaan itu' di hati
masing-masing dari mereka bahkan setelah mereka 'berubah', maka bukankah
sekarang aku bukan lagi para petani itu? Sekarang aku bukan lagi orang yang
diganggu hubungan asmaranya. Jika benar mereka masih memiliki perasaan itu,
maka bukankah aku telah berubah menjadi hama bagi tanaman mereka? bukankah aku
yang kini menjadi orang ketiga dihubungan masing-masing dari mereka? Kini aku
menjadi bayang-bayang dalam kehidupan mereka...
"Aku
adalah hama. Aku adalah orang ketiga." Tidakkah ini malah lucu?
"Ah,
apa yang sedang kupikirkan barusan?"
Hujan
belum berhenti juga. Sudah lima belas menit yang lalu aku berteduh di serambi
rumah tua ini. Aku bersama dua siswa SMA. Sepertinya mereka sepasang kekasih.
Sama sepertiku; mereka tidak membawa mantel karena mengira tidak akan hujan.
Setelah berteduh cukup lama, mereka memutuskan untuk pulang setelah tersenyum
dan pamit padaku. Keduanya berlarian menuju sepeda motor yang diparkir tidak
jauh dengan motorku. Tawa bahagia jelas terlihat di wajah mereka. Aku tidak
melepaskan pandanganku dari mereka hingga mereka menghilang dibelokan tidak
jauh dari rumah ini.
Aah,
aku iri!
Jujur
aku lebih suka basah daripada harus duduk menunggu hujan yang tidak tahu kapan
akan berhenti, jika saja aku tidak membawa buku dan skripsi di tas cokelatku
ini. Aku tidak suka menunggu. Tidak ada orang yang suka menunggu. Jarak antara
rumah tua ini dan rumahku sudah tidak terlalu jauh, tidak butuh lima menit jika
menggunakan sepeda motor untuk sampai ke rumah.
Tapi hujan di luar bisa membuat aku basah kuyup bahkan sebelum aku
menghidupkan motorku yang kuparkir dipinggir jalan.
Kali
ini, Aku tidak bisa pulang...

Comments