Skip to main content

HMPS Akuntansi UMMU - Gerakan Akuntansi Berbagi

"28 Oktober 2017"

Ini adalah foto teman-teman Himpunan Mahasiswa Program Studi Akuntansi (HMPS-A) UMMU bersama dengan teman-teman di Panti Asuhan Nurul Qalbi Ternate dalam kegiatan Gerakan Akuntansi Berbagi. Dari beberapa kegiatan yg pernah kami selenggarakan,ini adalah salah satu kegiatan yg paling berkesan untuk saya.

Gerakan Akuntansi Berbagi adalah kegiatan amal  untuk menyantuni anak yatim piatu yang kami laksanakan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda. Tujuannya adalah untuk meningkatkan rasa kepedulian sosial pengurus HMPS-A UMMU pada khususnya, dan diharapkan dapat berefek ke seluruh civitas akademika UMMU pada umumnya, dan lebih luas lagi pada masyarakat kota Ternate.

Menurut kami Hari Sumpah Pemuda merupakan momen yg tepat untuk diperingati oleh para pemuda khususnya pengurus HMPS-A UMMU dengan kegiatan yg positif. Salah satunya adalah Gerakan Akuntansi Berbagi yg sekaligus menjadi pengingat bahwa anak-anak yatim piatu yg berada di Panti Asuhan juga merupakan sedikit dari banyaknya para pemuda Indonesia.

Saat itu kami tidak terlalu banyak mengumpulkan santunan, namun saya pikir kami cukup berhasil karena kami hanya memiliki waktu sekitar seminggu lebih untuk mengumpulkan santunan. Tentunya ini karena usaha dan kerja keras teman-teman HMPS-A.

Terlepas dari kegiatan tersebut, saya sadar bahwa selama memegang amanah dalam HMPS-A banyak sekali yang perlu dikoreksi, kelalaian saya dan kekurangan saya pribadi dalam setiap pelaksanaan kegiatan termasuk kegiatan ini. Secara pribadi saya juga belajar banyak hal dan tentunya saya merasa bahagia karena bisa bekerja sama dengan teman-teman hebat di HMPS-A.

Semoga kedepannya, lahir pengurus-pengurus organisasi di Akuntansi UMMU-khususnya HMPS-A yg tentunya bisa lebih hebat dari pengurus-pengurus sebelumnya. Juga makin banyak kegiatan-kegiatan positif yang dilaksanakan.

Terakhir, saya tidak punya pesan lain selain: cintai almamater kita.

Terima kasih untuk kebersamaannya...

#cttnAA

Comments

Popular posts from this blog

Home is My Favorite Word

  Salah satu kata favoritku dalam bahasa inggris adalah ‘home’ yang berarti rumah. Memang kata rumah dalam bahasa inggris bukan hanya ‘home’, ada ‘house’ juga. Yang menjadi pembeda, saat kita bilang ‘house’ maka artinya hanya sebatas ‘bangunan fisik’ yang kita tempati. Tidak lebih. Sedangkan saat kita bilang ‘home’ kita tidak hanya bicara tentang bangunan fisik, kita bicara tentang perasaan. ‘Home’ berarti perwujudan apapun yang membuat kita nyaman dan menemukan cinta. Maka itu bisa tempat, bangunan, atau bahkan orang. Selama kita merasa nyaman. Selama kita merasa aman. Selama kita merasa dicintai. Selama kita bisa menjadi diri kita sendiri tanpa khawatir dinilai. Selama kita bahagia. Maka tidak penting dalam bentuk apapun, itu adalah ‘home’. Ketika seseorang bilang ke kita “you are my home” atau “you feel like home to me”, bagiku itu adalah bentuk penghargaan tertinggi.

Trip to Hiri - The Magical Island at Maluku Utara

    Setelah hanya menjadi rencana sejak tahun 2022 akhirnya bisa terwujud sekarang. Menapaki kaki di Pulau Hiri, pulau yang namanya disebut di salah satu lagu ikonik kota Ternate berjudul Selamat Datang Di Kota Ternate ciptaan Pak Semmy Metekohy. Ada beberapa pilihan tempat wisata di sini, namun satu yang mencuri hati saya sejak lama adalah Batu Balubang Gurabala, batu besar dengan lubang di tengahnya, yang merupakan ikon wisata Pulau Hiri. Batu Balubang Gurabala terletak di pesisir Pantai Tomajiko Pulau Hiri. Pantai ini terbilang unik karena pesisir pantainya dipenuhi bongkahan batu-batu berukuran beragam, bukan pasir seperti pada umumnya. Dalam perjalanan pulang dari Batu Balubang menuju Pelabuhan Hiri kemarin, sempat sadar ternyata warna biru laut di sekitar Pulau Hiri terlihat lebih cerah dibandingkan yang di dekat pulau Ternate yang cenderung lebih gelap. Pikir saya mungkin karena laut di sekitar Pulau Ternate berawarna gelap karena saat itu sudah sore dan kebetulan sinar...

Kenangan

  Aku biasanya berbaring di sampingmu. Semenjak kecil. Mendengarkanmu bercerita banyak hal. Apa saja, termasuk keinginan-keinginan sederhanamu. Terlalu sederhana. Seperti saat kau memintaku untuk membelikanmu sebuah sandal yang nyaman untuk kau pakai di rumah. Kadang giliranmulah yang mendengarkan aku bercerita. Lebih tepatnya berkeluh kesah. Saat banyak hal menyakitkan terjadi. Saat hati sesak, penuh dengan beban. Mengobrol denganmu selalu menjadi obat. Saat jauhpun kita tidak pernah absen mengobrol. Saling menelepon menjadi rutinitas kita. Meskipun hanya beberapa menit. Kau bilang; “Yang penting kmalongo nik Alan ni suara do” Sekarang, hening. Tempat tidur yang biasanya kau tempati, di mana aku biasanya berbaring di sisimu, sekarang kosong. Kau tidak lagi di situ. Tidak ada lagi senandung-senandung kecilmu. Pun obrolan-obrolan kita. Aku tidak bisa lagi mendengarkan suaramu. Semesta memutuskan telepon kita. Padahal masih banyak yang ingin kuceritakan padamu, masih banyak yang ingi...