Skip to main content

My Dearest Friends: Akuntansi UMMU 014

"Ingatlah: saat waktu membuat jarak di antara kita semakin melebar, peluklah semua kenangan kita dengan erat"
(-Alan Arifin)

Aku masih ingat dengan sms-sms menjengkelkan kalian yang sering masuk di handphoneku soal dosen dan jam kuliah khakahakakak. "Dosen so masuk, cepat daa" dulu sms itu yang sering aku kirim ke kalian meskipun dosennya belum datang dan entah kenapa kalian selalu percaya khakahakak.

Hari ini-jika tidak salah-tepat tiga tahun sembilan bulan 25 hari waktu menggerogoti kebersamaan kita. Hampir empat tahun! Dulu, waktu kita masih sering mengeluh sama-sama karena ribetnya tugas kuliah, kita pernah memiliki "do'a" yang sama yaitu semoga kita cepat lulus dan bebas dari tugas-tugas yang banyak itu. Sekarang Tuhan telah mengabulkan do'a kita, meskipun ada beberapa dari kita yang masih harus berjuang sedikit lagi.

Dan... dibalik tawa kita kemarin, ada satu kenyataan yang  mengganggu bahagiaku, maksudku bahagianya kita. Yaitu kenyataan bahwa selepas dari hari itu, kita tidak akan bersama seperti dulu lagi.

Masih ingat bukan saat pertama kali kita dengan semangatnya mengulurkan tangan untuk berkenalan satu sama lain tetapi malah malu saat disuruh dosen memperkenalkan diri di awal-awal kuliah? Masih ingat dengan suasana diskusi yang heboh, yang eeeeeehhhhh, yang ini biar jadi rahasia saja khakahakakak?! Masih ingat dengan kehebohan saat ada yang mengangkat hp mengajak foto bareng pake kamera b612? Masih ingat saat kita kompak untuk tidak mengerjakan tugas kuliah sama-sama meskipun pada akhirnya tugas-tugas tersebut tetap selesai? Sekarang, besok, dan seterusnya kebersamaan itu hanya akan jadi kenangan untuk kita semua.

Terima kasih teman-teman Akuntansi UMMU angkatan 2014 tanpa terkecuali. Terima kasih untuk kesempatan mengenal kalian. Terima kasih untuk kebersamaan selama tiga tahun sembilan bulan 25 hari.

Ingatlah: saat waktu membuat jarak di antara kita semakin melebar, peluklah semua kenangan kita dengan erat...

(postingan di FB 25 Juli 2018)

#cttnAA #alanarifinqts

Comments

Popular posts from this blog

Home is My Favorite Word

  Salah satu kata favoritku dalam bahasa inggris adalah ‘home’ yang berarti rumah. Memang kata rumah dalam bahasa inggris bukan hanya ‘home’, ada ‘house’ juga. Yang menjadi pembeda, saat kita bilang ‘house’ maka artinya hanya sebatas ‘bangunan fisik’ yang kita tempati. Tidak lebih. Sedangkan saat kita bilang ‘home’ kita tidak hanya bicara tentang bangunan fisik, kita bicara tentang perasaan. ‘Home’ berarti perwujudan apapun yang membuat kita nyaman dan menemukan cinta. Maka itu bisa tempat, bangunan, atau bahkan orang. Selama kita merasa nyaman. Selama kita merasa aman. Selama kita merasa dicintai. Selama kita bisa menjadi diri kita sendiri tanpa khawatir dinilai. Selama kita bahagia. Maka tidak penting dalam bentuk apapun, itu adalah ‘home’. Ketika seseorang bilang ke kita “you are my home” atau “you feel like home to me”, bagiku itu adalah bentuk penghargaan tertinggi.

Trip to Hiri - The Magical Island at Maluku Utara

    Setelah hanya menjadi rencana sejak tahun 2022 akhirnya bisa terwujud sekarang. Menapaki kaki di Pulau Hiri, pulau yang namanya disebut di salah satu lagu ikonik kota Ternate berjudul Selamat Datang Di Kota Ternate ciptaan Pak Semmy Metekohy. Ada beberapa pilihan tempat wisata di sini, namun satu yang mencuri hati saya sejak lama adalah Batu Balubang Gurabala, batu besar dengan lubang di tengahnya, yang merupakan ikon wisata Pulau Hiri. Batu Balubang Gurabala terletak di pesisir Pantai Tomajiko Pulau Hiri. Pantai ini terbilang unik karena pesisir pantainya dipenuhi bongkahan batu-batu berukuran beragam, bukan pasir seperti pada umumnya. Dalam perjalanan pulang dari Batu Balubang menuju Pelabuhan Hiri kemarin, sempat sadar ternyata warna biru laut di sekitar Pulau Hiri terlihat lebih cerah dibandingkan yang di dekat pulau Ternate yang cenderung lebih gelap. Pikir saya mungkin karena laut di sekitar Pulau Ternate berawarna gelap karena saat itu sudah sore dan kebetulan sinar...

Kenangan

  Aku biasanya berbaring di sampingmu. Semenjak kecil. Mendengarkanmu bercerita banyak hal. Apa saja, termasuk keinginan-keinginan sederhanamu. Terlalu sederhana. Seperti saat kau memintaku untuk membelikanmu sebuah sandal yang nyaman untuk kau pakai di rumah. Kadang giliranmulah yang mendengarkan aku bercerita. Lebih tepatnya berkeluh kesah. Saat banyak hal menyakitkan terjadi. Saat hati sesak, penuh dengan beban. Mengobrol denganmu selalu menjadi obat. Saat jauhpun kita tidak pernah absen mengobrol. Saling menelepon menjadi rutinitas kita. Meskipun hanya beberapa menit. Kau bilang; “Yang penting kmalongo nik Alan ni suara do” Sekarang, hening. Tempat tidur yang biasanya kau tempati, di mana aku biasanya berbaring di sisimu, sekarang kosong. Kau tidak lagi di situ. Tidak ada lagi senandung-senandung kecilmu. Pun obrolan-obrolan kita. Aku tidak bisa lagi mendengarkan suaramu. Semesta memutuskan telepon kita. Padahal masih banyak yang ingin kuceritakan padamu, masih banyak yang ingi...