Skip to main content

SAGAWELE: Morning Routine - Menyapu Jalanan


Di kota, ketika malam beranjak meninggalkan pagi maka penandanya adalah suara kendaraan yang mulai terdengar ramai. Beda dengan di desa yang jarang bahkan hampir tidak ada kendaraan bermotor, khususnya di desa ini, penandanya adalah suara sapu di jalanan.

Orang-orang di desa ini punya kebiasan membersihkan jalanan setapak di depan rumah mereka, samping kiri-kanan, hingga halaman belakang rumah mereka. Suara sapu lidi yang mereka gunakan biasanya mulai terdengar saat usai sholat shubuh dan makin riuh hingga matahari menyapa dengan sinarnya di Timur. Sepertinya menyapu jalanan atau membersihkan halaman rumah saat pagi adalah hal wajib bagi orang-orang di sini.

Saya ingat waktu kecil dulu saat bangun terlambat dan belum sempat menyapu halaman rumah, nenek selalu bilang: "Tuh, lihat. Halaman rumah orang lain sudah bersih semua. Halaman kita masih kotor. Ayo sapu, bersihin, gak malu sama orang?" Dan yang ngomong kayak gitu bukan cuma nenek tapi semua nenek dan orang tua-orang tua ketika halaman rumah mereka belum bersih.

Biasanya yang menyapu adalah anak-anak kecil yang belum ataupun yang sudah bersekolah. Seusai menyapu barulah mereka bermain atau mandi dan siap untuk ke sekolah. Jika kebetulan di suatu rumah tidak ada anak kecilnya maka yang menyapu adalah orang dewasa. 

#cttnAA

Comments

Popular posts from this blog

Home is My Favorite Word

  Salah satu kata favoritku dalam bahasa inggris adalah ‘home’ yang berarti rumah. Memang kata rumah dalam bahasa inggris bukan hanya ‘home’, ada ‘house’ juga. Yang menjadi pembeda, saat kita bilang ‘house’ maka artinya hanya sebatas ‘bangunan fisik’ yang kita tempati. Tidak lebih. Sedangkan saat kita bilang ‘home’ kita tidak hanya bicara tentang bangunan fisik, kita bicara tentang perasaan. ‘Home’ berarti perwujudan apapun yang membuat kita nyaman dan menemukan cinta. Maka itu bisa tempat, bangunan, atau bahkan orang. Selama kita merasa nyaman. Selama kita merasa aman. Selama kita merasa dicintai. Selama kita bisa menjadi diri kita sendiri tanpa khawatir dinilai. Selama kita bahagia. Maka tidak penting dalam bentuk apapun, itu adalah ‘home’. Ketika seseorang bilang ke kita “you are my home” atau “you feel like home to me”, bagiku itu adalah bentuk penghargaan tertinggi.

Trip to Hiri - The Magical Island at Maluku Utara

    Setelah hanya menjadi rencana sejak tahun 2022 akhirnya bisa terwujud sekarang. Menapaki kaki di Pulau Hiri, pulau yang namanya disebut di salah satu lagu ikonik kota Ternate berjudul Selamat Datang Di Kota Ternate ciptaan Pak Semmy Metekohy. Ada beberapa pilihan tempat wisata di sini, namun satu yang mencuri hati saya sejak lama adalah Batu Balubang Gurabala, batu besar dengan lubang di tengahnya, yang merupakan ikon wisata Pulau Hiri. Batu Balubang Gurabala terletak di pesisir Pantai Tomajiko Pulau Hiri. Pantai ini terbilang unik karena pesisir pantainya dipenuhi bongkahan batu-batu berukuran beragam, bukan pasir seperti pada umumnya. Dalam perjalanan pulang dari Batu Balubang menuju Pelabuhan Hiri kemarin, sempat sadar ternyata warna biru laut di sekitar Pulau Hiri terlihat lebih cerah dibandingkan yang di dekat pulau Ternate yang cenderung lebih gelap. Pikir saya mungkin karena laut di sekitar Pulau Ternate berawarna gelap karena saat itu sudah sore dan kebetulan sinar...

Kenangan

  Aku biasanya berbaring di sampingmu. Semenjak kecil. Mendengarkanmu bercerita banyak hal. Apa saja, termasuk keinginan-keinginan sederhanamu. Terlalu sederhana. Seperti saat kau memintaku untuk membelikanmu sebuah sandal yang nyaman untuk kau pakai di rumah. Kadang giliranmulah yang mendengarkan aku bercerita. Lebih tepatnya berkeluh kesah. Saat banyak hal menyakitkan terjadi. Saat hati sesak, penuh dengan beban. Mengobrol denganmu selalu menjadi obat. Saat jauhpun kita tidak pernah absen mengobrol. Saling menelepon menjadi rutinitas kita. Meskipun hanya beberapa menit. Kau bilang; “Yang penting kmalongo nik Alan ni suara do” Sekarang, hening. Tempat tidur yang biasanya kau tempati, di mana aku biasanya berbaring di sisimu, sekarang kosong. Kau tidak lagi di situ. Tidak ada lagi senandung-senandung kecilmu. Pun obrolan-obrolan kita. Aku tidak bisa lagi mendengarkan suaramu. Semesta memutuskan telepon kita. Padahal masih banyak yang ingin kuceritakan padamu, masih banyak yang ingi...