Skip to main content

Posts

40 Days of Losing You

  Tugasmu telah usai, Nek. Setelah 26 tahun menjadi bagian dari perjalanan hidupku. Bagian yang akan terus hidup dan istimewa di dalam hatiku. Terima kasih. Terima kasih untuk setiap cinta dan pengorbananmu. Terima kasih untuk segala pelajaran hidup yang telah kau ajarkan; sabar, ikhlas, mencintai tanpa mengharap balas. Terima kasih untuk setiap apapun yang telah kau berikan untukku. Aku tidak pernah menyangka do’aku agar kau selalu diberi kesehatan dan umur panjang sekarang berganti dengan do’a agar kau tenang dan dihadiahkan surga. Aku tidak pernah mengira hal yang paling ku takutkan terjadi begitu cepat. Andai saja kematian bisa ditawar, Nek, aku ingin terus hidup bersamamu. Aku ingin kau tetap ada membersamai langkahku. Karena setelah ketiadaanmu hidup menjadi hambar dan segalanya menjadi abu-abu. Sekarang aku jadi mengerti, betapa beruntungnya orang-orang yang masih bisa melepas rindu dengan bertemu orang yang mereka rindukan. Meski hanya dengan melihat tanpa menyentuh. Meski ...

Perpisahan Terakhir

  Saat aku tamat SMP dan harus melanjutkan sekolah kau mengantarku ke kapal. Saat itu kita hanya akan terpisah pulau, Nek, tapi membayangkan bagaimana hidup tanpa sosokmu sangat menyakitkan-bahkan untuk aku yang saat itu masih bocah. Dari jendela kapal aku menangis sambil memanggil-manggilmu, saat itu aku bahkan ingin melompat dari atas kapal karena tak ingin berpisah darimu. Sementara kau di atas pelabuhan menyeka air matamu. Setelah kapal berlayar jauh aku masih terus menangis, pun hari-hari setelah hari itu. Aku merindukanmu setiap saat. Padahal saat itu aku masih memiliki kesempatan untuk bertemu lagi denganmu, atau setidaknya masih bisa meneleponmu. Sekarang, kita tak hanya terpisah pulau. Kita terpisah amat jauh, nek. Terlalu jauh. Rasa sakit dulu saat berpisah denganmu karena harus bersekolah kini seperti dilipatgandakan. Karena perpisahan kita kini bukan hanya sementara, bukan hanya dalam hitungan hari atau tahun, tapi selamanya. Tak ada kesempatan untuk bertemu denganmu la...

20 Hari

  “Nene oke hapangin lak jam 4 e” Pintaku padamu dulu saat masih sekolah. Aku selalu memintamu membangunkan aku untuk belajar setiap subuh. Menemaniku membaca atau menghafal pelajaran-pelajaran sekolah. Setelah itu aku memintamu untuk mengujiku; menanyakan apa saja berkaitan dengan apa yang baru kubaca atau kuhafal. Di ruang tengah rumah, di bawah lampu remang-remang, kita berdua sama-sama sibuk. Aku sibuk membuka halaman demi halaman buku, sementara kau berusaha agar matamu tetap terjaga menemaniku. Saat kebetulan ada ulangan dan aku pulang dengan wajah murung, kau selalu meyakinkanku bahwa nilaiku pasti bagus. “Lak e nik Alan jado” Katamu selalu. Kau orang yang selalu percaya padaku saat aku sendiri ragu pada diriku. Saat aku kadang malu pada diriku sendiri, saat aku kadang merasa hina sendiri, kau orang yang selalu membanggakan aku. Kau tidak pernah menyentil sedikitpun hatiku. Sebaliknya, kau seperti meletakkan perasaanmu di dalamnya. Apapun yang menyakitiku akan menyakitimu ju...

Kenangan

  Aku biasanya berbaring di sampingmu. Semenjak kecil. Mendengarkanmu bercerita banyak hal. Apa saja, termasuk keinginan-keinginan sederhanamu. Terlalu sederhana. Seperti saat kau memintaku untuk membelikanmu sebuah sandal yang nyaman untuk kau pakai di rumah. Kadang giliranmulah yang mendengarkan aku bercerita. Lebih tepatnya berkeluh kesah. Saat banyak hal menyakitkan terjadi. Saat hati sesak, penuh dengan beban. Mengobrol denganmu selalu menjadi obat. Saat jauhpun kita tidak pernah absen mengobrol. Saling menelepon menjadi rutinitas kita. Meskipun hanya beberapa menit. Kau bilang; “Yang penting kmalongo nik Alan ni suara do” Sekarang, hening. Tempat tidur yang biasanya kau tempati, di mana aku biasanya berbaring di sisimu, sekarang kosong. Kau tidak lagi di situ. Tidak ada lagi senandung-senandung kecilmu. Pun obrolan-obrolan kita. Aku tidak bisa lagi mendengarkan suaramu. Semesta memutuskan telepon kita. Padahal masih banyak yang ingin kuceritakan padamu, masih banyak yang ingi...

Kuburan

  Waktu kecil dulu aku selalu menemanimu setiap ziarah ke pekuburan. Tugasku adalah membersihkan kuburan; menyapunya. Kau yang menaburi bunga dan menyirami air. Dari satu kuburan ke kuburan lain kau selalu sabar menjawab pertanyaan-pertanyaanku tentang mereka. Menjelaskan bagaimana hubunganmu dengan mereka; beberapa adalah cucumu, ada anak-anakmu, saudaramu, juga orangtuamu. Karena selalu ikut, sampai sekarang aku masih ingat dengan jelas satu per satu kuburan dan cerita tentang mereka. Sekarang aku ke pekuburan ini tanpa langkah kakimu. Tanpa sosokmu di sebelahku menenteng keranjang berisi bunga. Tidak ada lagi tawamu pada kekesalanku setiap kali ember berisi air yang kubawa kotor (ada sebutir pasir di dalamnya). Aku tidak lagi bisa melihat sosokmu menaburi bunga di atas kuburan. Kau seharusnya sedang bercerita dan menjawab segala pertanyaan-pertanyaanku yang kadang membuatmu tertawa karena tak masuk akal. 18 hari setelah kepergianmu. Kita yang biasanya berziarah bersama, kita yan...

Obrolan 7: "Iklan"

"Aku tidak ingin kau atau siapapun mencampuri urusanku dengan Tuhan..."  -Alan Arifin  "Jika aku percaya pada Tuhan karena kamu, karena omongan kamu, itu artinya aku jelas lebih percaya kamu dari pada Tuhan. Jadi biar. Biar aku yang menemukan Tuhan sendiri. Aku tidak ingin kau atau siapapun mencampuri urusanku dengan Tuhan..." Jawabku tegas. Kurapikan buku-buku di atas meja dan mengisinya dalam ranselku. Aku hendak pergi dari tempat ini. Meninggalkan orang yang duduk di depanku yang sekarang hanya termangu. "Kamu mau kemana?" Tanya dia ketika aku sudah beberapa langkah darinya. "Pergi" Jawabku tanpa berbalik. Aku lanjut berjalan. Ku dengar langkah kakinya di belakang. "Kemana pun kau pergi aku akan ikut. Aku harus ikut." Dia sudah berada di samping. "Ke Toilet?" Tanyaku sambil terus berjalan. "Aku ikut!" Timpalnya segera. "Gilaaa" Aku tertawa. "Orang marah gak boleh ketawa" Katanya. ...

Obrolan 6: "K.I.T.A"

"No. Suka berarti harus berjuang!" (-Alan Arifin) "Saya ingin menjelajahi dunia. Menapaki Tembok Besar Cina, menyentuh Eiffel dan menara Pisa, melihat Piramida, mencium Ka'bah, dan memeluk setiap orang yang saya temui di setiap negara yang saya kunjungi..." "Yang terakhir agak gila, sih. Kau tidak benar-benar akan memeluk setiap orang yang kau temui kan? Pun jika kau benar-benar akan melakukannya, memang orang-orang itu akan mau?" Dia menyengir. "Kau baru saja merusak mimpi seseorang..." Saya membuat wajah cemberut. "Kenapa tidak kau lakukan sekarang?" Dia bertanya. "Melakukan apa? Memeluk orang yang saya temui? Memeluk.... kamu?" Saya pura-pura tidak mengerti maksud pertanyaannya. "Kalau uang saya banyak, saya tidak perlu mengatakannya. Kau juga tidak akan mendengarnya sekarang karena pasti sekarang saya sudah ada di salah satu menara tertinggi di Dubai" Dia tertawa. "Kenapa kau ingin sekali ...